Show Sidebar

Expected Salary Bikin Galau Ini Solusinya 😜

Girls, sini deh merapat! Kita ngobrolin satu hal yang suka bikin jantung jedag-jedug pas lagi semangat-semangatnya ngelamar kerja. Kamu tahu kan, momen itu? Pas udah isi semua data diri, upload CV kinclong, nulis pengalaman kerja sampai jari keriting, eh… tiba-tiba di hadapan kita ada satu kolom sakral yang judulnya: Expected Salary. Langsung auto-diam, layar laptop dipandangi, sambil pikiran melayang ke mana-mana. “Duh, diisi berapa, ya? Kalau nulis ketinggian, nanti HRD-nya kabur duluan sebelum lihat CV-ku. Tapi kalau kerendahan, apa nggak nyesek nanti pas gajian pertama?” Rasanya kayak lagi ujian matematika, tapi soalnya tentang masa depan finansial kita. Bener nggak, sih?

Jujur, aku juga dulu gitu, kok! Kolom itu rasanya kayak jebakan Batman. Salah langkah sedikit, rasanya kesempatan bisa langsung ambyar. Tapi setelah ngobrol sama banyak teman-teman HRD dan para pejuang karier lainnya, aku sadar satu hal penting. Ternyata, cara kita isi kolom expected salary itu bukan sekadar nulis angka, lho. Ini adalah langkah strategis pertama kita untuk menunjukkan nilai diri dan membuka pintu untuk negosiasi gaji yang lebih asyik nantinya. Jadi, jangan panik dulu, ya! Anggap saja ini kesempatan buat nunjukkin kalau kamu itu kandidat yang cerdas dan tahu persis berapa nilai yang pantas untuk keahlianmu. Yuk, kita bedah bareng-bareng cara menaklukkan kolom keramat ini!

Kenapa Sih Kolom Gaji yang Diharapkan Itu Bikin Pusing Tujuh Keliling?

Wajar banget kalau kita merasa cemas. Di satu sisi, ada ketakutan kalau angka yang kita tulis terlalu tinggi. Pikiran langsung negatif, “Nanti HRD mikir aku kemahalan, nggak realistis, terus CV-ku langsung dilempar ke tumpukan ‘tolak’ tanpa dibaca.” Ketakutan ini nyata banget, apalagi kalau kita benar-benar naksir sama posisi dan perusahaannya. Kita jadi nggak mau ambil risiko apa pun yang bisa menggagalkan kesempatan emas itu. Rasanya lebih aman main ‘cantik’ dengan angka yang rendah, padahal itu bisa jadi bumerang buat kita sendiri.

Di sisi lain, ada juga ketakutan kalau angka yang kita tulis terlalu rendah. Coba bayangin, kamu diterima kerja, lalu pas ngobrol sama teman satu tim, kamu baru tahu kalau gajimu jauh di bawah standar pasar untuk posisi itu. Duh, nyeseknya sampai ke ubun-ubun! Kamu jadi merasa nggak dihargai, kerja jadi kurang semangat, dan ujung-ujungnya malah jadi pengin cepat-cepat cari kerjaan baru lagi. Nah, dilema antara ‘terlalu mahal’ dan ‘terlalu murah’ inilah yang bikin kepala pusing dan jari jadi ragu-ragu buat ngetik angkanya.

Tapi, coba deh kita lihat dari kacamata rekruter. Sebenarnya, kolom gaji yang diharapkan ini adalah alat filter yang praktis buat mereka. Setiap perusahaan pasti punya anggaran (budget) untuk setiap posisi yang mereka buka. Dengan melihat ekspektasi gajimu, mereka bisa langsung tahu apakah kamu masuk ke dalam rentang anggaran mereka atau tidak. Ini membantu mereka menyeleksi kandidat dengan lebih efisien. Jadi, ini bukan murni ‘tes’ untuk menjebakmu, melainkan proses penyelarasan antara ekspektasimu dan kemampuan perusahaan. Tugas kita adalah menemukan titik temu yang manis di antara keduanya.

Jurus Jitu Sebelum Mengisi: Lakukan Riset Gaji Dulu, Yuk!

Sebelum nulis angka apa pun, ada satu langkah wajib yang nggak boleh banget kamu lewati: melakukan riset gaji! Serius, ini kuncinya. Kamu nggak mungkin kan beli skincare baru tanpa cek review dulu? Atau beli baju online tanpa lihat tabel ukuran? Nah, sama halnya dengan ‘menjual’ keahlianmu. Kamu harus tahu dulu berapa sih ‘harga pasaran’ untuk skill dan pengalaman yang kamu tawarkan. Jangan cuma mengandalkan perasaan atau tebak-tebak buah manggis, karena itu resep jitu menuju penyesalan.

Terus, gimana caranya melakukan riset gaji yang akurat? Gampang banget, kok! Ini beberapa cara yang bisa kamu coba:

  • Gunakan Kalkulator Gaji di Job Portal: Banyak job portal, termasuk website kita, punya fitur Salary Report atau Kalkulator Gaji. Kamu bisa masukkan data seperti posisi, industri, lokasi, dan tahun pengalaman untuk mendapatkan gambaran rentang gaji yang wajar. Ini adalah sumber data yang paling relevan dan ter-update.
  • Intip Laporan Gaji Tahunan: Coba deh Googling “laporan gaji Indonesia 2024” atau “salary survey Indonesia [industri kamu]”. Biasanya ada firma rekrutmen besar yang merilis laporan ini secara gratis. Datanya lengkap banget dan bisa jadi patokan yang kuat.
  • Tanya ke Jaringan Profesional: Jangan malu buat ngobrol sama senior, mentor, atau teman-teman yang bekerja di industri atau peran serupa. Tentu nggak perlu tanya “gaji kamu berapa persisnya?”, tapi kamu bisa bertanya lebih halus, misalnya, “Kak, kalau untuk posisi X dengan pengalaman 3 tahun di Jakarta, kira-kira rentang gaji yang wajar berapa, ya?” Biasanya mereka akan dengan senang hati berbagi insight.
  • Perhatikan Lowongan Lain: Coba lihat-lihat lowongan untuk posisi serupa di perusahaan lain. Kadang-kadang ada beberapa perusahaan yang cukup transparan dengan mencantumkan rentang gaji di deskripsi pekerjaan mereka. Ini bisa jadi contekan yang sangat berguna!

Saat melakukan riset, jangan lupa pertimbangkan beberapa faktor penting ya, girls. Gaji untuk posisi Digital Marketer di startup Jakarta pasti beda dengan posisi yang sama di perusahaan multinasional di Surabaya. Jadi, perhatikan variabel seperti lokasi kerja (UMR/UMK di daerah itu), ukuran dan jenis perusahaan (startup, korporat, multinasional), industri (misalnya, teknologi biasanya menawarkan gaji lebih tinggi dari industri lain), dan tentu saja level pengalamanmu (entry-level, mid-level, atau senior). Semakin detail risetmu, semakin percaya diri kamu saat menuliskan angkanya.

Antara Angka Pasti dan Rentang Gaji, Mana yang Lebih Oke?

Setelah data hasil riset terkumpul, pertanyaan berikutnya muncul: lebih baik nulis satu angka pasti atau pakai rentang (range)? Ini juga sering jadi perdebatan. Kalau kamu nulis satu angka pasti, misalnya Rp10.000.000, kesannya memang lugas dan kamu tahu apa yang kamu mau. Tapi, ini cukup berisiko. Kalau angka itu ternyata sedikit di atas budget perusahaan, kamu bisa langsung tereliminasi. Sebaliknya, kalau angka itu ternyata di bawah budget mereka, kamu kehilangan kesempatan untuk mendapatkan penawaran yang lebih tinggi.

Makanya, aku pribadi selalu menyarankan teman-temanku untuk menggunakan rentang gaji. Misalnya, “Rp9.000.000 – Rp11.000.000”. Kenapa? Pertama, ini menunjukkan kalau kamu fleksibel dan terbuka untuk diskusi. Kamu nggak kaku, tapi punya batasan yang jelas. Kedua, ini membuka pintu untuk negosiasi gaji. Rentang ini secara psikologis memberi sinyal kepada rekruter, “Ini lho area bermain kita, yuk kita diskusikan angka terbaiknya.” Ini jauh lebih aman dan strategis.

Saat menentukan rentang, ada triknya juga, lho. Angka terendah dalam rentangmu haruslah angka yang benar-benar bisa kamu terima dengan lapang dada, angka yang kalaupun kamu dapat segitu, kamu tetap happy dan nggak merasa dirugikan. Ini adalah _walk-away point_ kamu. Sementara itu, angka tertinggi adalah target idealmu, angka yang didasarkan pada riset pasar dan nilai lebih yang kamu tawarkan. Dengan begini, kamu punya ruang gerak yang aman. Kamu sudah pasang ‘jaring pengaman’ di angka terendah, sambil tetap membidik bintang di angka tertinggi.

Cara Elegan untuk Isi Kolom Expected Salary

Oke, teori sudah matang, sekarang saatnya praktek! Bagaimana cara menuliskan gaji yang diharapkan ini dengan elegan di formulir lamaran? Setelah kamu punya rentang gaji hasil riset, misalnya Rp8 juta hingga Rp10 juta, ada beberapa cara menuliskannya:

  1. Tulis Rentangnya Langsung: Cukup tulis `Rp8.000.000 – Rp10.000.000`. Ini adalah cara yang paling umum dan mudah dimengerti.
  2. Tambahkan Keterangan ‘Negotiable’: Kamu bisa menulis `Rp8.000.000 – Rp10.000.000 (dapat dinegosiasikan)`. Ini semakin mempertegas bahwa kamu terbuka untuk diskusi lebih lanjut, terutama jika kamu sangat tertarik dengan perannya terlepas dari angka.
  3. Sertakan Referensi Riset (di Cover Letter): Jika ada kolom untuk pesan tambahan atau di cover letter, kamu bisa memperkuat posisimu dengan kalimat seperti, “Berdasarkan riset saya mengenai standar kompensasi untuk posisi serupa di industri ini, ekspektasi gaji saya berada di kisaran Rp8.000.000 hingga Rp10.000.000.” Ini nunjukkin kalau kamu profesional dan nggak asal sebut angka.

Lalu, bagaimana kalau formulir online-nya cuma menyediakan satu kolom angka, nggak bisa pakai rentang atau teks? Nah, ini memang sedikit tricky. Di sinilah pentingnya riset tadi. Jangan panik dan jangan asal memasukkan angka terendahmu! Saran terbaikku adalah masukkan angka di tengah-tengah atau sedikit di atas titik tengah rentangmu. Misalnya, dari rentang Rp8-10 juta, kamu bisa memasukkan angka Rp9.000.000 atau Rp9.500.000. Angka ini cukup menarik bagi rekruter (karena tidak di batas atas) tapi juga sudah cukup nyaman buatmu.

Hati-hati! Hindari Kesalahan Fatal Ini Saat Mencantumkan Gaji

Ada beberapa kesalahan umum yang sering banget dilakukan para pelamar kerja, dan ini bisa langsung bikin rekruter ilfeel. Yuk, kita pastikan kamu nggak melakukan ini ya!

Kesalahan pertama dan paling fatal adalah menulis “Negotiable” atau “Sesuai Kebijakan Perusahaan”. Duh, please jangan, ya! Ini kelihatannya mungkin aman, tapi sebenarnya malah bikin kamu terlihat malas, nggak melakukan riset, dan nggak punya pendirian. Kamu seolah-olah bilang, “Terserah deh mau gaji saya berapa.” Ini langsung menempatkanmu di posisi tawar yang sangat lemah. Ingat, perusahaan pasti punya kebijakan, tapi tugasmu adalah memastikan kebijakan itu sesuai dengan nilaimu di pasar.

Kesalahan kedua adalah hanya berpatokan pada gaji terakhir. Banyak orang berpikir, “Gaji sekarang Rp6 juta, yaudah di tempat baru minta naik 20% jadi Rp7,2 juta.” Pola pikir ini kurang tepat. Gaji barumu seharusnya ditentukan oleh tanggung jawab peran baru, standar industri, dan nilai keahlianmu saat ini, bukan sekadar kenaikan persentase dari pekerjaan lama. Bisa jadi, nilai pasarmu sekarang sudah jauh lebih tinggi dari itu! Jangan biarkan gaji lama menahan potensi pendapatanmu di tempat baru.

Terakhir, hindari menjadi terlalu serakah atau terlalu rendah hati. Menulis angka yang jauh di atas hasil riset pasar tanpa justifikasi yang kuat bisa membuatmu terlihat arogan dan tidak realistis. Sebaliknya, menulis angka yang terlalu rendah karena takut ditolak akan membuatmu menyesal di kemudian hari. Kuncinya adalah keseimbangan. Percaya dirilah dengan angka yang sudah kamu riset. Angka itu adalah cerminan dari kerja keras, pengalaman, dan keahlian yang sudah kamu bangun selama ini.

Pertanyaan yang Sering Bikin Galau Seputar Gaji Harapan

  • Bagaimana jika saya fresh graduate dan belum punya pengalaman?

    Sebagai fresh graduate, fokuskan risetmu pada gaji untuk posisi entry-level di industrimu. Kamu bisa menggunakan UMP/UMK sebagai patokan dasar, lalu sesuaikan sedikit ke atas jika kamu punya nilai lebih seperti pengalaman magang yang relevan, IPK tinggi, atau skill khusus. Jangan pernah menulis “terserah perusahaan”. Tetap tunjukkan bahwa kamu punya ekspektasi yang wajar berdasarkan riset.

  • Apakah saya harus mencantumkan gaji kotor (gross) atau bersih (take-home pay)?

    Selalu, selalu, dan selalu cantumkan gaji kotor (gross) alias gaji sebelum dipotong pajak, BPJS, dan lain-lain, kecuali jika formulirnya secara spesifik meminta gaji bersih. Ini adalah standar profesional dalam proses rekrutmen. Kompensasi dan benefit di setiap perusahaan berbeda, jadi menggunakan patokan gross akan memudahkan perbandingan dan negosiasi nantinya.

  • Apa yang harus dilakukan jika ekspektasi gaji saya jauh di atas budget perusahaan, tapi saya tetap tertarik?

    Jika nanti kamu sampai ke tahap interview dan menyadari ada perbedaan signifikan, jangan langsung mundur. Sampaikan dengan jujur tapi sopan, “Ekspektasi saya memang berada di angka sekian berdasarkan riset, namun saya sangat tertarik dengan peran dan kesempatan belajar di sini. Saya terbuka untuk mendiskusikan paket kompensasi secara keseluruhan, termasuk benefit, bonus, atau peluang pengembangan karir lainnya.” Ini menunjukkan fleksibilitas dan minatmu yang tulus.

Siap Mengisi Kolom Gaji dengan Penuh Percaya Diri?

Gimana, girls? Setelah kita bedah semua, ternyata cara isi kolom expected salary itu nggak seseram yang dibayangkan, kan? Kuncinya cuma satu: persiapan. Dengan melakukan riset gaji yang matang, menentukan rentang yang strategis, dan menghindari kesalahan-kesalahan umum, kamu bisa mengubah kolom yang tadinya bikin cemas ini menjadi panggung pertamamu untuk menunjukkan nilai diri. Ini adalah langkah awal untuk mendapatkan kompensasi yang layak kamu terima.

Jadi, mulai sekarang, jangan lagi takut atau asal-asalan saat mengisi kolom ini. Anggap ini sebagai kesempatan untuk berlatih advokasi diri. Kamu berharga, dan kamu pantas mendapatkan yang terbaik. Sudah siap menemukan pekerjaan impian dengan gaji yang sesuai dengan nilaimu? Yuk, langsung jelajahi ribuan lowongan kerja keren di website kami dan terapkan semua tips ini. Semangat, ya!

Leave a Comment