Show Sidebar

Follow Up Lamaran Kerja Biar Dilirik 🐥

Hai, Girls! Sini, deh, merapat. Aku mau ngobrolin sesuatu yang pasti lagi kamu rasain banget sekarang. Coba bayangin, kamu udah semangat 45, begadang demi poles CV biar kinclong, nulis surat lamaran sampai rasanya jari mau keriting, terus dengan penuh harapan kamu klik tombol “kirim”. Satu hari, dua hari, seminggu… hening. Nggak ada kabar sama sekali. Rasanya tuh kayak lagi di-ghosting sama gebetan, kan? Udah ngasih CV terbaik, eh, cuma di-read doang sama HRD. Sakit tapi nggak berdarah! Perasaan was-was, galau, dan overthinking langsung jadi bestie kamu, deh.

Jujur, deh, fase menunggu ini emang paling menyiksa dalam proses cari kerja. Kamu jadi bolak-balik cek email setiap lima menit, berharap ada notifikasi dengan subjek “Undangan Interview”. Tapi yang muncul malah email promo dari marketplace. Huh! Di tengah kegalauan itu, pasti ada bisikan kecil di kepala, “Apa aku tanya aja, ya, kabar lamaranku? Tapi… nanti dikira ngejar-ngejar, nggak, sih? Nanti HRD-nya jadi ilfeel gimana?” Tenang, Sista… kamu nggak sendirian. Perasaan ini wajar banget, kok. Dan justru, bisikan kecil untuk melakukan follow up lamaran kerja itu adalah ide yang super brilian, asalkan dilakukan dengan cara yang elegan!

Kenapa Sih Follow Up Lamaran Kerja Itu Penting Banget?

Oke, kita bongkar dulu mitos yang bilang kalau follow up itu sama dengan desperate atau nggak sabaran. Jauh dari itu, Sayang! Justru, mengirim email untuk menanyakan kabar lamaran kerja itu menunjukkan beberapa hal positif tentang dirimu. Pertama, ini nunjukkin kalau kamu itu proaktif dan punya inisiatif. Kamu nggak cuma pasrah nungguin takdir, tapi kamu berusaha menjemput kesempatanmu. HRD suka, lho, sama kandidat yang kayak gini. Kelihatan banget kalau kamu punya rasa tanggung jawab dan sungguh-sungguh sama apa yang kamu mau.

Kedua, ini cara jitu biar namamu tetap ‘muncul’ di antara ratusan, bahkan ribuan, tumpukan CV lainnya. Bayangin deh meja kerja seorang HRD. Isinya bisa jadi lautan CV yang mirip-mirip. Nah, dengan email follow-up-mu yang singkat dan sopan, kamu seolah-olah lagi melambaikan tangan dengan manis ke HRD dan bilang, “Halo, Kak! Aku di sini, lho. Masih semangat banget buat gabung di perusahaan ini.” Ini bisa jadi pembeda tipis yang bikin CV-mu ditarik lagi dari tumpukan untuk dilihat ulang.

Terakhir, melakukan follow up juga bisa memberikan kamu kepastian. Daripada terus-terusan di-PHP-in sama harapan palsu, kadang lebih baik tahu status lamaranmu, kan? Meskipun jawabannya mungkin belum sesuai harapan, setidaknya kamu bisa lega dan fokus untuk cari peluang lain. Anggap aja ini sebagai cara untuk ‘menutup buku’ dengan baik dan siap membuka lembaran baru. Jadi, buang jauh-jauh pikiran kalau follow up itu norak. Ini adalah langkah karier yang cerdas!

Menentukan Kapan Waktu yang Tepat untuk Follow Up

Nah, ini dia pertanyaan sejuta umat: kapan waktu yang tepat untuk follow up? Soalnya, kalau kecepetan, bisa dikira nggak sabaran. Kalau kelamaan, momennya bisa hilang. Gini, lho, Girls, kuncinya adalah sabar dan strategis. Aturan main yang paling aman adalah menunggu sekitar 1-2 minggu setelah kamu mengirimkan aplikasi lamaran. Kenapa? Karena HRD juga butuh waktu untuk proses screening awal. Mereka harus menyortir CV, mencocokkan kualifikasi, dan mungkin berdiskusi dengan user atau manajer terkait.

Coba intip lagi deh iklan lowongan kerjanya. Kadang-kadang, perusahaan mencantumkan batas waktu pengiriman lamaran. Kalau ada, waktu terbaik untuk follow up adalah sekitar satu minggu setelah tanggal penutupan tersebut. Misalnya, lowongan ditutup tanggal 15, kamu bisa kirim email follow up di sekitar tanggal 22. Ini ngasih ruang buat tim rekrutmen untuk napas dan mulai memproses kandidat yang masuk.

Selain soal hari, perhatikan juga jam mengirim email. Hindari mengirim di pagi buta atau larut malam. Waktu emas biasanya adalah di hari kerja (Selasa, Rabu, atau Kamis) antara jam 10 pagi sampai jam 3 sore. Kenapa? Senin biasanya super sibuk dengan tumpukan pekerjaan dari akhir pekan, dan Jumat sore pikiran orang-orang udah melayang ke weekend. Dengan mengirim di waktu yang tepat, emailmu punya kesempatan lebih besar untuk dibaca saat HRD sedang dalam mode fokus bekerja.

Rahasia Menyusun Email Follow Up yang Elegan dan Profesional

Udah tahu kapan harus kirim, sekarang kita bedah cara nulisnya biar nggak salah langkah. Ingat, tujuan kita adalah tampil profesional dan antusias, bukan menagih janji kayak debt collector. Kunci utamanya adalah: keep it short, simple, and sweet! Nggak perlu nulis esai atau curhat panjang lebar. HRD itu sibuk banget, jadi mereka akan sangat menghargai email yang langsung ke intinya.

Struktur emailnya simpel aja, kok.

  • Subjek Email yang Jelas: Ini krusial banget! Subjek harus informatif biar emailmu nggak nyasar ke folder spam. Gunakan format seperti “Follow Up Lamaran Kerja – [Posisi yang Dilamar] – [Nama Kamu]”. Contoh: Follow Up Lamaran Kerja – Content Writer – Anindya Putri.
  • Sapaan Profesional: Gunakan sapaan yang formal tapi tetap hangat, seperti “Yth. Bapak/Ibu [Nama HRD]” kalau kamu tahu namanya, atau “Yth. Bapak/Ibu HRD [Nama Perusahaan]” jika tidak.
  • Paragraf Pembuka: Langsung sebutkan tujuanmu mengirim email. Awali dengan kalimat sopan yang merujuk pada lamaran yang sudah kamu kirim sebelumnya, termasuk kapan kamu mengirimnya.
  • Paragraf Isi: Di bagian ini, ulangi lagi ketertarikanmu pada posisi dan perusahaan tersebut secara singkat. Kamu bisa sebutkan satu alasan kenapa kamu sangat antusias, misalnya karena sejalan dengan visi perusahaan atau passion-mu. Ini menunjukkan kalau kamu beneran niat, bukan cuma asal lamar.
  • Paragraf Penutup & Tanda Tangan: Tutup email dengan ucapan terima kasih atas waktu dan perhatiannya. Jangan lupa sertakan nama lengkap dan kontakmu (nomor telepon dan link profil LinkedIn) di bawah tanda tangan.

Ingat ya, tujuannya cuma untuk menanyakan kabar lamaran kerja dengan sopan. Hindari kalimat yang terkesan menuntut, seperti “Saya harap bisa segera mendapat balasan” atau “Kapan saya akan dihubungi untuk interview?”. Ganti dengan kalimat yang lebih halus, misalnya “Saya ingin menanyakan apakah ada informasi terbaru mengenai proses seleksi untuk posisi tersebut.” atau “Besar harapan saya untuk dapat berdiskusi lebih lanjut mengenai kesempatan ini.” Lebih elegan, kan?

Contekan! Contoh Email Follow Up Lamaran Kerja yang Efektif

Biar nggak bingung lagi, nih aku kasih contekan alias template yang bisa langsung kamu modifikasi sesuai kebutuhan. Anggap aja ini resep rahasia dari sahabatmu, ya! Simpan baik-baik dan pakai di saat yang tepat.

Subjek: Follow Up Lamaran Kerja – Social Media Specialist – Bunga Citra

Yth. Bapak/Ibu Tim Rekrutmen PT Maju Sejahtera,

Dengan hormat,

Melalui email ini, saya ingin menindaklanjuti lamaran pekerjaan yang telah saya kirimkan pada tanggal 10 Oktober 2023 untuk posisi Social Media Specialist.

Saya sangat antusias dengan kesempatan untuk dapat berkontribusi di PT Maju Sejahtera, terutama karena saya mengagumi kampanye-kampanye kreatif yang telah perusahaan lakukan. Saya yakin keahlian saya dalam strategi konten dan analisis media sosial dapat memberikan nilai tambah bagi tim Anda.

Besar harapan saya untuk dapat mendengar informasi lebih lanjut mengenai status lamaran saya. Terima kasih banyak atas waktu dan perhatian yang Bapak/Ibu berikan.

Hormat saya,
Bunga Citra
0812-3456-7890
linkedin.com/in/bungacitra

Lihat, kan? Singkat, padat, jelas, dan yang paling penting, sopan. Email ini langsung ke tujuan tanpa bertele-tele. Di dalamnya ada pengingat kapan kamu melamar, penegasan kembali antusiasmemu (plus sedikit pujian tulus buat perusahaan), dan permintaan informasi yang halus. Ini adalah contoh email follow up yang sempurna untuk menunjukkan profesionalisme dan minatmu yang tulus.

Kesalahan Fatal yang Harus Dihindari Saat Menanyakan Kabar Lamaran

Walaupun niatnya baik, follow up bisa jadi bumerang kalau caranya salah. Biar usahamu nggak sia-sia dan malah bikin ilfeel HRD, catat baik-baik beberapa hal yang pantang kamu lakukan ini, ya!

  1. Terlalu Sering Mengirim Email: Cukup satu kali follow up untuk satu lamaran. Jangan membombardir inbox HRD setiap hari atau setiap minggu. Kalau kamu ‘neror’, yang ada namamu malah di-blacklist. Sabar itu emas, Sayang.
  2. Menggunakan Bahasa yang Tidak Sopan atau Terlalu Santai: Hindari sapaan seperti “Hai, Kak!” atau pakai emoji dan singkatan alay. Ingat, ini komunikasi profesional. Jaga citra dirimu tetap baik di mata rekruter.
  3. Menuntut Jawaban Segera: Kalimat seperti “Tolong segera dibalas ya” atau “Saya tunggu kabarnya hari ini” itu BIG NO! Ini akan membuatmu terlihat arogan dan tidak sabaran. Tunjukkan kalau kamu menghargai waktu dan proses mereka.
  4. Lupa Melakukan Pengecekan Ulang (Proofread): Jangan sampai ada salah ketik (typo), apalagi di nama HRD, nama perusahaan, atau posisi yang kamu lamar. Ini menunjukkan kamu ceroboh dan kurang teliti. Baca lagi emailmu 2-3 kali sebelum menekan tombol kirim.

Kesalahan-kesalahan kecil ini bisa merusak kesan baik yang sudah kamu bangun. Jadi, selalu perhatikan detail dan jaga etika komunikasimu. Anggap saja ini bagian dari tes pertama untuk melihat seberapa profesional dirimu.

Gimana Kalau Nggak Ada Jawaban Sama Sekali?

Oke, skenario terburuk: kamu udah kirim email follow up yang super sopan dan elegan, tapi… tetap hening. Jangkrik pun enggan bersuara di inbox-mu. Apa yang harus dilakukan? Pertama-tama, tarik napas dalam-dalam dan jangan diambil hati. Serius, jangan baper! Ada banyak sekali alasan kenapa HRD tidak membalas. Mungkin mereka sedang super sibuk, mungkin posisinya sudah terisi, atau mungkin emailmu tidak sengaja terlewat.

Tidak adanya balasan bukan berarti kamu kandidat yang buruk. Mungkin kualifikasimu belum menjadi yang paling pas untuk posisi spesifik tersebut saat ini. Dunia rekrutmen itu dinamis banget, Girls. Anggap saja ini bukan jodohmu. Kalau kamu nggak dapat balasan setelah satu atau dua minggu dari email follow up-mu, itu adalah isyarat yang cukup jelas untuk move on.

Fokuskan energimu untuk mencari dan melamar peluang lain. Jangan habiskan waktumu untuk menunggu satu pintu yang tidak kunjung terbuka. Ingat, ada banyak sekali perusahaan keren di luar sana yang mungkin sedang mencari talenta sepertimu. Teruslah asah skill, perbarui portofoliomu, dan tetap semangat menebar CV. Rezeki nggak akan ke mana, kok!

Tanya Jawab Seputar Follow-Up Lamaran Kerja

  • Bolehkah aku follow up lewat LinkedIn atau WhatsApp?

    Sebaiknya tetap gunakan email sebagai jalur utama karena ini adalah jalur komunikasi profesional yang paling umum. Gunakan LinkedIn atau WhatsApp hanya jika rekruter yang lebih dulu menghubungimu melalui platform tersebut atau secara eksplisit mempersilakanmu untuk bertanya di sana.

  • Aku sudah sampai tahap interview, perlu follow up lagi nggak?

    Tentu! Mengirimkan email ucapan terima kasih (Thank You Note) 1×24 jam setelah interview adalah wajib. Ini menunjukkan etika yang baik dan antusiasme. Jika setelah itu belum ada kabar sesuai timeline yang mereka janjikan, kamu boleh mengirimkan email follow up singkat sekitar 1-2 hari setelah deadline yang dijanjikan berlalu.

  • Berapa kali maksimal aku boleh melakukan follow up?

    Untuk tahap awal setelah mengirim CV, satu kali follow up sudah cukup. Jika sudah sampai tahap interview dan dijanjikan akan dikabari, kamu boleh melakukan follow up maksimal dua kali dengan jeda waktu yang sopan (misalnya 1 minggu). Lebih dari itu, sebaiknya fokus pada kesempatan lain.

Jadi, gimana? Udah nggak galau lagi, kan, soal follow up lamaran kerja? Ingat, ini bukan soal ngejar-ngejar, tapi soal menunjukkan keseriusan dan inisiatifmu secara profesional. Kamu punya kendali atas usahamu, jadi jangan ragu untuk mengambil langkah cerdas ini. Lakukan dengan cara yang tepat, di waktu yang tepat, dan dengan nada yang tepat. Kamu pasti bisa!

Sambil menunggu kabar baik dari lamaranmu, jangan berhenti bergerak, ya! Yuk, terus cari peluang karier impian lainnya yang nggak kalah keren. Siapa tahu, jodoh kariermu yang sesungguhnya justru menanti di klik berikutnya. Semangat selalu, Girls!

Leave a Comment