Show Sidebar

Follow Up Interview Kerja Biar Dilirik 😺

Gimana, Sis, interview-nya tadi? Lancar? Duh, aku tahu banget deh perasaan campur aduk setelah keluar dari ruang interview. Di satu sisi lega karena akhirnya selesai, tapi di sisi lain langsung overthinking, “Tadi aku jawabnya udah bener belum, ya?”, “Kira-kira mereka suka nggak ya sama aku?”, “Aku bakal dihubungin lagi nggak, ya?” Rasanya kayak habis nembak gebetan, terus deg-degan nunggu jawaban, iya kan? Pikiran kita langsung terbang ke mana-mana, nge-replay setiap detik percakapan, dan berharap ada tanda-tanda baik. Tenang, kamu nggak sendirian kok, bestie. Perasaan ini normal banget dialami semua pejuang kerja.

Nah, di tengah kegalauan menunggu kabar, ada satu senjata rahasia yang sering banget dilupain tapi kekuatannya luar biasa: email follow-up! Mungkin kedengarannya sepele, ya? Kayak, “Ah, ngapain sih repot-repot kirim email lagi? Ntar dikira ngebet banget.” Eits, jangan salah! Justru di sinilah kesempatan emas kamu buat ngasih kesan terakhir yang “nendang” banget di mata HRD. Ini bukan soal ngebet atau putus asa, tapi soal menunjukkan profesionalisme, antusiasme, dan etika yang baik. Sebuah email singkat yang ditulis dengan tepat bisa jadi pembeda antara kamu dan kandidat lain yang sama-sama hebatnya, lho. Yuk, sini aku bisikin caranya!

Kenapa Sih Kamu Wajib Banget Kirim Email Follow-Up?

Coba bayangin deh, kamu itu HRD yang seharian penuh udah ngobrol sama belasan, bahkan puluhan kandidat. Pusing, kan? Semua jawaban, wajah, dan CV rasanya jadi nge-blend jadi satu di kepala. Nah, di saat itulah, sebuah email terima kasih yang tulus dan personal dari kamu muncul di inbox mereka. Pasti langsung, “Oh, iya, si [Nama Kamu] yang tadi siang, yang pas ngobrolin soal proyek X kelihatan semangat banget!” Tiba-tiba, kamu jadi lebih menonjol dan lebih mudah diingat dibandingkan kandidat lain yang cuma diam dan pasrah menunggu takdir.

Mengirimkan email ini bukan sekadar formalitas basa-basi. Ini adalah cara follow up interview yang paling elegan untuk menegaskan kembali minatmu yang besar pada posisi dan perusahaan tersebut. Ini menunjukkan bahwa kamu benar-benar mendengarkan selama wawancara, menghargai waktu mereka, dan serius ingin bergabung. Bagi rekruter, kandidat yang menunjukkan inisiatif seperti ini punya nilai plus. Mereka melihat kamu sebagai pribadi yang proaktif, punya sopan santun, dan perhatian terhadap detail—kualitas yang dicari di hampir semua jenis pekerjaan.

Selain itu, ini adalah kesempatan keduamu untuk “bersinar”. Mungkin pas interview tadi kamu agak grogi sampai lupa menyebutkan salah satu pencapaian pentingmu? Atau ada poin dari jawabanmu yang rasanya kurang maksimal? Nah, email follow-up bisa jadi panggung tambahan buatmu. Kamu bisa menyelipkan sedikit informasi tambahan yang relevan atau mengklarifikasi poin yang tadi kamu sampaikan. Anggap saja ini sebagai encore setelah konser utamamu selesai, yang bikin penonton (alias HRD) makin terkesan dan nggak bisa melupakan penampilanmu.

Memahami Kapan Waktu yang Tepat Follow Up Interview

Pertanyaan sejuta umat: “Kapan sih waktu terbaik buat kirim emailnya? Satu jam setelah interview? Besok? Atau minggu depan?” Rasa takut dikira nggak sabaran atau malah terlalu agresif itu wajar banget, kok. Tapi, ada aturannya, bestie. Waktu emas untuk mengirimkan email follow-up ucapan terima kasih adalah dalam waktu 24 jam setelah wawancara selesai. Kenapa secepat itu? Karena ingatan interviewer tentang kamu dan obrolan kalian masih sangat segar. Mereka masih bisa menghubungkan emailmu dengan percakapan yang baru saja terjadi.

Kalau kamu mengirimnya terlalu cepat, misalnya hanya 30 menit setelah keluar ruangan, bisa terkesan agak terburu-buru dan kurang tulus. Sebaliknya, kalau kamu menundanya sampai dua atau tiga hari, momentumnya bisa hilang. Mungkin saja interviewer sudah keburu membuat keputusan atau impresi mereka terhadapmu sudah mulai memudar. Jadi, ambillah jeda beberapa jam, tenangkan diri, kumpulkan pikiranmu, lalu tulis email yang thoughtful di hari yang sama atau keesokan paginya. Itu adalah rentang waktu yang paling ideal dan profesional.

Lalu, bagaimana kalau saat interview, HRD sudah bilang, “Kami akan memberikan kabar dalam waktu dua minggu ke depan”? Apakah kamu tetap harus mengirim email dalam 24 jam? Jawabannya, iya, tetap kirim! Email pertama yang kamu kirim dalam 24 jam itu adalah email ucapan terima kasih. Ini beda dengan email menanyakan status. Setelah mengirim email terima kasih, kamu harus menghormati timeline yang mereka berikan. Jika setelah dua minggu lewat dan kamu belum juga mendapat kabar, barulah kamu boleh mengirim email follow-up kedua yang isinya lebih singkat, hanya untuk menanyakan pembaruan status lamaranmu dengan sopan.

Membongkar Anatomi Email Follow-Up yang Nggak Akan Dicuekin

Oke, sekarang kita masuk ke bagian teknisnya. Membuat email follow-up yang efektif itu ada resepnya, lho. Nggak bisa asal tulis, “Terima kasih atas interviewnya.” Kalau gitu doang, ya sama aja bohong. Email yang bagus harus punya struktur yang jelas dan konten yang berbobot. Mulai dari subjek yang menarik perhatian, salam pembuka yang sopan, isi yang personal, sampai penutup yang profesional. Yuk, kita bedah satu per satu bagiannya biar kamu makin jago!

Pertama dan terpenting adalah subjek email. Ini adalah gerbang utama menuju emailmu. Kalau subjeknya nggak jelas, ada risiko emailmu nggak dibuka atau malah masuk spam. Buatlah subjek yang singkat, jelas, dan profesional. Pola yang paling aman dan efektif adalah: Follow-Up: Wawancara untuk Posisi [Nama Posisi] – [Nama Lengkap Kamu]. Atau bisa juga: Terima Kasih – Wawancara [Nama Posisi]. Dengan begini, rekruter langsung tahu siapa pengirimnya dan apa konteks email tersebut tanpa perlu menebak-nebak.

Masuk ke bagian isi, mulailah dengan salam pembuka yang benar, sebutkan nama interviewer dengan jelas (pastikan ejaannya benar, ya!). Paragraf pertama, langsung ucapkan terima kasih atas waktu dan kesempatan yang telah diberikan. Di paragraf kedua, inilah bagian personalisasinya. Sebutkan satu atau dua hal spesifik yang kalian diskusikan selama interview. Misalnya, “Saya sangat antusias ketika Bapak membahas tentang rencana ekspansi tim marketing di kuartal mendatang.” Ini menunjukkan kalau kamu benar-benar menyimak. Selanjutnya, di paragraf ketiga, tegaskan lagi kenapa kamu adalah kandidat yang tepat dengan menghubungkan kualifikasimu dengan kebutuhan mereka secara singkat.

Terakhir, bagian penutup. Nyatakan kembali antusiasme kamu terhadap posisi tersebut dan sampaikan bahwa kamu menantikan kabar baik dari mereka. Tutup dengan salam penutup profesional seperti “Hormat saya,” atau “Best regards,” diikuti dengan nama lengkap dan informasi kontakmu (nomor telepon dan link profil LinkedIn). Ingat, seluruh email ini sebaiknya tidak lebih dari tiga sampai empat paragraf pendek. Jaga agar tetap ringkas, padat, dan to the point. Jangan sampai HRD bosan membacanya!

Contoh Email Follow Up Interview Kerja yang Bikin HRD Terkesan

Teorinya udah, sekarang waktunya praktik! Biar kamu nggak bingung merangkai kata, aku sudah siapkan beberapa template email follow up setelah interview yang bisa kamu adaptasi. Ingat ya, adaptasi, bukan copy-paste total. Sentuhan personal itu yang paling penting dan bikin emailmu beda dari yang lain. Kamu bisa memilih template yang paling sesuai dengan gaya perusahaan yang kamu lamar, apakah itu formal korporat atau lebih santai ala startup.

Berikut adalah template yang bisa kamu gunakan untuk berbagai situasi:

  • Template 1: Formal dan Profesional
  • Subjek: Terima Kasih – Wawancara untuk Posisi [Nama Posisi Anda]
  • Yth. Bapak/Ibu [Nama Interviewer],

    Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak atas waktu dan kesempatan yang telah Bapak/Ibu berikan kepada saya untuk wawancara posisi [Nama Posisi] pada hari ini/kemarin, [Tanggal Wawancara].

    Saya sangat menikmati diskusi kita, terutama ketika kita membahas mengenai [Sebutkan topik spesifik yang dibahas, contoh: strategi perusahaan untuk meningkatkan brand awareness]. Hal tersebut semakin meyakinkan saya bahwa nilai dan visi perusahaan ini sangat sejalan dengan aspirasi karir saya.

    Setelah mendengar lebih dalam mengenai tanggung jawab posisi ini, saya semakin yakin bahwa keahlian saya dalam [Sebutkan 1-2 keahlian relevan, contoh: SEO dan content marketing] dapat memberikan kontribusi positif untuk mencapai tujuan tim.

    Sekali lagi, terima kasih atas kesempatan berharga ini. Saya sangat menantikan kabar selanjutnya dari Bapak/Ibu.

    Hormat saya,

    [Nama Lengkap Anda]
    [Nomor Telepon]
    [Link Profil LinkedIn/Portfolio (jika ada)]

Template di atas cocok untuk perusahaan besar atau industri yang cenderung formal seperti perbankan atau firma hukum. Kalau kamu melamar ke startup atau agensi kreatif yang suasananya lebih cair, kamu bisa sedikit melunakkan bahasanya agar terdengar lebih hangat dan personal. Yang terpenting, selalu sesuaikan nada bicaramu dengan kultur perusahaan yang kamu rasakan selama proses wawancara. Tunjukkan bahwa kamu “nyambung” dengan mereka.

Kesalahan Fatal dalam Cara Follow Up Interview yang Harus Dihindari

Nah, selain tahu apa yang harus dilakukan, kamu juga wajib tahu apa yang JANGAN dilakukan. Salah langkah sedikit saja dalam mengirim email follow-up bisa jadi bumerang yang justru merusak citramu. Aku nggak mau kamu jatuh ke lubang yang sama seperti yang lain. Jadi, catat baik-baik ya, beberapa kesalahan fatal ini harus kamu hindari sebisa mungkin agar usahamu nggak sia-sia dan malah jadi nilai minus di mata rekruter.

Jangan sampai niat baikmu malah dianggap mengganggu. Perhatikan frekuensi dan cara komunikasimu. Berikut adalah daftar dosa besar yang sering terjadi:

  1. Mengirim email terlalu sering. Cukup satu email terima kasih dan satu email follow-up status (jika perlu). Jangan membombardir inbox mereka setiap hari!
  2. Subjek email yang typo, kosong, atau terlalu santai seperti “Hai kak”. Ini langsung merusak kesan profesionalmu.
  3. Isi email yang generik, alias hasil copy-paste mentah-mentah dari internet tanpa ada sentuhan personal sama sekali.
  4. Salah menulis nama interviewer atau nama perusahaan. Ini kesalahan paling fatal dan tidak termaafkan! Cek ulang tiga kali sebelum menekan tombol “kirim”.
  5. Terlalu menuntut atau tidak sabaran. Hindari kalimat seperti, “Jadi bagaimana? Saya diterima atau tidak?” atau langsung menanyakan negosiasi gaji di email ini.
  6. Email yang terlalu panjang seperti menulis novel. Jaga agar tetap ringkas dan langsung ke intinya.

Aku pernah dengar cerita dari seorang teman HRD, ada kandidat yang potensial banget tapi akhirnya nggak lolos gara-gara mengirim email follow-up setiap dua hari sekali, bahkan sampai mencoba menelepon ke nomor pribadi si interviewer. Bukannya terlihat antusias, kandidat itu malah dianggap tidak menghargai waktu dan terkesan memaksa. Jadi, ingat ya, ada batas tipis antara persisten dan mengganggu. Tetap jaga etika dan profesionalisme di setiap langkah.

Tips Tambahan Agar Email Follow-Up Kamu Makin Kece

Kalau kamu mau jadi kandidat yang extraordinary, melakukan hal-hal standar saja tidak cukup. Kamu perlu sedikit sentuhan ekstra yang membuat interviewer berpikir, “Wah, anak ini beda!” Kamu sudah tahu dasar-dasar cara follow up interview yang baik, sekarang saatnya naik level. Ada beberapa trik kecil yang bisa kamu terapkan agar email-mu tidak hanya dibaca, tetapi juga diingat dan bahkan dibicarakan oleh tim rekrutmen.

Salah satu triknya adalah memberikan nilai tambah. Coba ingat-ingat lagi obrolan kalian. Apakah ada masalah atau proyek yang sedang mereka hadapi? Jika kamu punya ide cemerlang yang relevan, kamu bisa menuliskannya secara singkat. Misalnya, jika kamu seorang Social Media Specialist dan mereka sempat menyinggung soal engagement yang rendah, kamu bisa menambahkan kalimat seperti: “Terkait diskusi kita mengenai tantangan engagement di Instagram, terlintas di benak saya sebuah ide kampanye sederhana yang mungkin bisa dicoba. Saya sudah tuangkan dalam satu slide singkat yang saya lampirkan bersama email ini.” Ini menunjukkan inisiatif dan kemampuan problem-solving kamu secara nyata.

Tips lainnya adalah manfaatkan platform profesional seperti LinkedIn. Setelah mengirim email, kamu bisa mengirimkan permintaan koneksi kepada interviewer di LinkedIn. Sertakan pesan singkat saat mengirim permintaan, contohnya, “Terima kasih atas sesi wawancara yang insightful pagi ini, Pak/Bu [Nama]. Senang bisa terhubung.” Ini adalah cara halus untuk tetap berada di radar mereka dan menunjukkan bahwa kamu serius ingin membangun jaringan profesional. Namun, jangan sampai kamu malah mengirim pesan-pesan yang tidak perlu di sana, ya.

Dan yang terakhir, tapi seringkali disepelekan: proofread! Baca ulang emailmu berkali-kali. Pastikan tidak ada salah ketik (typo), salah tata bahasa (grammar), atau yang paling fatal, salah menyebut nama orang atau perusahaan. Kesalahan kecil seperti ini bisa langsung menghancurkan citra profesional dan teliti yang sedang kamu bangun. Kalau perlu, minta bantuan teman untuk membacanya sekali lagi untuk memastikan semuanya sempurna sebelum kamu menekan tombol ‘Kirim’.

Pertanyaan yang Sering Bikin Galau Seputar Follow-Up Interview

Aku tahu, masih banyak pertanyaan kecil yang bikin kamu ragu-ragu. Wajar kok, kita semua ingin melakukan yang terbaik. Daripada dipendam dan bikin galau, yuk kita jawab beberapa pertanyaan yang paling sering muncul seputar etika follow-up setelah wawancara kerja.

  • Bolehkah melakukan follow-up lewat WhatsApp, DM Instagram, atau telepon?

    Sebaiknya hindari. Email adalah jalur komunikasi yang paling profesional dan paling dihargai dalam konteks rekrutmen. Menggunakan jalur pribadi seperti WhatsApp atau DM bisa dianggap melanggar privasi dan tidak sopan, kecuali jika interviewer secara eksplisit memberikan nomornya dan mempersilakanmu untuk menghubungi lewat sana. Tetaplah di jalur formal untuk menjaga citra profesionalmu.

  • Bagaimana jika saya tidak tahu atau lupa alamat email interviewer?

    Jangan panik! Coba cari di website resmi perusahaan pada bagian kontak atau tentang kami. Kamu juga bisa mencarinya di LinkedIn. Jika semua cara sudah mentok, opsi terakhir adalah mengirimkannya ke alamat email HRD umum perusahaan. Tuliskan di baris subjek dan paragraf pembuka bahwa email tersebut ditujukan untuk Bapak/Ibu [Nama Interviewer] terkait wawancara posisi [Nama Posisi].

  • Saya sudah kirim template email follow up setelah interview tapi tidak kunjung dibalas. Apa yang harus saya lakukan?

    Sabar adalah kuncinya. Jika mereka sudah memberikan timeline (misal: 2 minggu), hormatilah waktu tersebut. Jika setelah timeline itu lewat kamu belum dapat kabar, kamu boleh mengirim satu kali lagi email follow-up yang sangat singkat untuk menanyakan status. Jika dari awal tidak ada timeline, tunggu sekitar 1-2 minggu sebelum mengirim follow-up kedua. Jika setelah itu tetap tidak ada balasan, kemungkinan besar mereka sudah melanjutkan proses dengan kandidat lain. Ikhlaskan dan fokus pada peluang berikutnya.

Nah, itu dia, bestie, semua amunisi yang kamu butuhkan untuk menaklukkan tahap pasca-interview. Mengirim email follow-up yang baik itu bukan soal menjilat atau mengemis, tapi soal menunjukkan kelas dan profesionalisme kamu sebagai seorang kandidat. Ini adalah sentuhan akhir yang bisa menyempurnakan seluruh usahamu dari awal. Jangan pernah meremehkan kekuatan dari sebuah “terima kasih” yang tulus dan strategis.

Sekarang kamu sudah punya senjatanya! Sambil menunggu kabar baik dari perusahaan impianmu, jangan berhenti bergerak. Terus asah kemampuanmu dan tetap buka mata untuk peluang-peluang emas lainnya. Yuk, cek ribuan lowongan kerja terbaru yang sesuai dengan passion-mu di website kami dan temukan langkah karirmu selanjutnya!

Leave a Comment